Pertunjukan “Kidung Gandrung” Prodi Pendidikan Tari Membangun Literasi Seni Pertunjukan Adi Luhung untuk Generasi Milenial

Pementasan seni pertunjukan berjudul Kidung Gandrung oleh Prodi Pendidikan Tari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) diselenggarakan pada Jumat, 25 Oktober 2019, di Aula Maftuchah Yusuf, Gedung IDB Dewi Sartika UNJ. Pertunjukan ini merupakan rangkaian kegiatan dari Art, Education, and Culture (ARTEC) Fair ke-9 FBS UNJ. Pertunjukan Kidung Gandrung ini melibatkan lebih kurang 100 pendukung acara mulai dari dosen, tendik, mahasiswa, hingga alumni Prodi Pendidikan Tari. Sutradara pertunjukan Kidung Gandrung ini adalah Dr. Deden Haerudin, M.Sn., yang merupakan dosen mata kuliah Teater pada Prodi Pendidikan Tari.

Koordinator Prodi (Koorprodi) Pendidikan Tari Dr. Dwi Kusumawardani, M,Pd., menyampaikan alasan mengusung tema Adi Luhung karena ingin menggelar sebuah seni pertunjukan yang bertujuan untuk memorabilia seni pertunjukan yang bernilai Adi Luhung yang mencerminkan budaya agung bangsa Indonesia. Kesenian tradisional dalam kategori klasik mempunyai kecenderungan hampir dilupakan, ini terbukti tidak banyak orang yang mengenalinya lagi, tidak banyak orang yang menyukai, tidak banyak orang yang mau mempelajari, bahkan tidak banyak orang yang merasa memiliki. Inilah alasan yang dikemukakan dosen Kritik Tari tersebut memilih tema Adi Luhung untuk diangkat ke sebuah seni pertunjukan.

Pertunjukan Kidung Gandrung merupakan perpaduan antara pertunjukan Tari Tradisional dan Musik Tradisional. Hampir seluruh dosen Prodi Pendidikan Tari menampilkan kelihaiannya dalam menari dan bermain musik tradisional. Pertunjukan tari dan musik tradisional yang ditampilkan antara lain Tari Gending Sriwijaya yang ditarikan oleh Dra. Rahmida Setiawati. M.M., Dr. Elindra Yetti, M.Pd., Selly Oktarini, S.Pd. M.Sn., dan mahasiswa, Tari Badaya Wayang ditarikan oleh Dr. Dinny Devi Triana, M.Pd., dan mahasiswa, Tari Srimpi Manggala Retno ditarikan oleh Dr. Dwi Kusumawardani, M.Pd., dan mahasiswa, Tari Pakarena ditarikan oleh mahasiswa, Tari Remo ditarikan oleh Dra. Nursilah, M.Si., Tari Piring Dantiang Badarai ditarikan oleh Romi Nursyam, S. Sn., M.Sn., Tari Baris ditarikan oleh Drs. Ida Bagus Ketut Sudiasa, M.Sn., dan Tari Nawung Sekar ditarikan oleh Dra. Kartika Mutiara, M.Sn., bersama para cucu yang merupakan anak-anak dari para alumni prodi pendidikan tari. Pertunjukan ditutup dengan Tari Nawung Sekar yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari para penonton. Tari merupakan simbolisasi warisan budaya tradisi nusantara kepada anak dan cucu. (SO)