Artikel Unggulan Lainnya
- I-CIRCALLED 2026 Bahas Ruang Dialog Dunia Guna Mentransformasi Masa Depan Berkelanjutan
- Helvy Tiana Rosa, Dosen FBS UNJ Raih Book of the Year Gaungkan SDGs Perdamaian
- FBS UNJ Kukuhkan 16 Dosen Baru sebagai ASN, Perkuat Tujuh Program Studi
- FBS UNJ Gelar PAS PKKMB 2026 Sambut 1.507 Mahasiswa Baru
- FBS UNJ Dukung Pencegahan dan Penanganan Kekerasan, Ikut Tandatangani Pakta Integritas
- PRODI PENDIDIKAN BAHASA JERMAN UNJ SAMBUT HANGAT KUNJUNGAN PRAKTIK BAHASA DARI BPSDM HAN KEMHAN
- THE JAKARTA POST DAN FBS UNJ HADIRKAN SESI KREATIF “STORYTELLING BEYOND WORDS: FROM NARRATIVE TO VISUAL IMPACT”
Arsip Postingan






I-CIRCALLED 2026 Bahas Ruang Dialog Dunia Guna Mentransformasi Masa Depan Berkelanjutan
Jakarta, 14 Oktober 2026, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan konferensi internasional The 2nd I-CIRCALLED (International Conference on Innovation, Reflection, and Creativity in Arts, Literature, and Language Education). Kegiatan tahun kedua ini berlangsung secara hibrida, para pembicara utama hadir luring di Auditorium Latief Hendraningrat, Lantai 2 UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur sementara peserta konferensi berada daring dalam ruang Zoom Cloud Meeting.
Konferensi kedua ini mengusung tema “Human Creativity and Sustainable Futures: Transforming Arts, Literature, Language, and Education for an Inclusive and Equitable World”. Tema tersebut dipaparkan ke dalam lima topik, yaitu kreativitas manusia dalam seni, sastra, bahasa, dan pendidikan inklusivitas; kesetaraan demi masa depan berkelanjutan; kreativitas dan inovasi digital dalam pendidikan multibahasa; identitas pemahaman antarbudaya seperti seni, budaya, dan kearifan lokal untuk pembangunan berkelanjutan; dan etika, nilai kemanusiaan, serta inovasi yang bertanggung jawab.
Seminar ini menghadirkan lima pembicara utama dari lima negara, yaitu Prof. Dr. Tamir Sa’ad Ibrahim (Suez Canal University, Mesir), Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang, MA (Institut Teknologi Bandung, Indonesia) Assoc. Prof. Philippe Grange, Ph.D. (La Rochelle Université, Prancis), Prof. Madya Dr. Hishamudin Isam (Universiti Utara Malaysia), dan Dr. Jeong Ok Jeon, BFA, MFA (Direktur Arcolabs, Korea Selatan). Kelima pembicara berbagi perspektif mengenai kreativitas manusia, seni, bahasa, pendidikan, serta pemanfaatan AI dalam mewujudkan masa depan yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Dekan FBS UNJ, Dr. Samsi Setiadi, M.Pd., menegaskan bahwa manusia memikul tanggung jawab terhadap lingkungan tempat ia hidup dan berkarya. Dr Samsi menyebut kreativitas tidak cukup diukur dari kebaruannya, tetapi juga dari dampaknya bagi alam dan kehidupan bersama. Dari gagasan itu, beliau mengajak peserta memikirkan masa depan berkelanjutan, yakni masa depan yang dirawat melalui pendidikan, bahasa, sastra, dan seni.
Pembicara pertama, Prof. Madya Dr. Hishamudin Isam memaparkan kreativitas manusia bisa dipahami melalui model “arsitektur” dengan empat unsur yang saling terhubung, yaitu bahasa, makna, budaya, dan AI. Kecerdasan buatan boleh memperluas kreativitas, tetapi manusia tetap menjadi “arsitek” yang bertanggung jawab.
Senada dengan itu, perspektif mengenai hubungan manusia dan teknologi juga disampaikan oleh Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang. Ia menekankan bahwa kemampuan AI dalam mengolah data dan mengenali pola tidak serta-merta dapat menggantikan kapasitas manusia untuk menafsirkan makna, membangun pemahaman, dan menghasilkan gagasan baru. Dengan demikian, kreativitas manusia tetap memiliki peran penting dalam mengarahkan pemanfaatan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Berbeda dengan kedua pembicara sebelumnya, Dr. Philippe Grangé menyoroti paradoks platform media sosial yang dapat memberikan dampak negatif sekaligus menawarkan solusi atas persoalan yang turut ditimbulkannya. Penggunaan media sosial secara berlebihan berpotensi memperburuk kesepian, mengurangi kualitas interaksi sosial, dan melemahkan solidaritas antarmanusia. Di sisi lain, platform digital juga dapat menjadi ruang untuk memperoleh dukungan dan membangun hubungan sosial. Fenomena ini mendorong pentingnya menghidupkan kembali interaksi secara langsung, keterlibatan dalam komunitas, dan semangat gotong royong sebagai bagian dari upaya memperkuat ikatan sosial di masyarakat.
Prof. Dr. Tamir Sa’ad Ibrahim mengangkat pemanfaatan AI generatif dalam pembelajaran tata bahasa Arab bagi penutur asing, dengan mahasiswa Indonesia sebagai model kajian. Berdasarkan pengalamannya mengajar mahasiswa Indonesia selama hampir sepuluh tahun di Mesir dan Indonesia, ia menilai tata bahasa sebagai kendala terbesar para pemelajar. Ia lalu menawarkan pendekatan tata bahasa formal yang menyederhanakan kaidah bahasa Arab menjadi empat rumus layaknya persamaan matematika. Rumus tersebut dijadikan data masukan bagi AI generatif untuk menghasilkan contoh kalimat dan latihan yang gramatikal. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa AI tidak dapat bekerja tanpa data dari manusia sehingga kecerdasan manusia tetap tidak tergantikan.
Adapun Dr. Jeong Ok Jeon membahas pentingnya relasi dalam proses penciptaan dan pemaknaan seni melalui studi kasus Festival Walk di Ars Electronica, Linz. Ia menekankan bahwa relasi yang inklusif tidak berarti menghapus perbedaan. Sebaliknya, inklusivitas perlu diwujudkan melalui ruang partisipasi yang memungkinkan beragam perspektif hadir, saling berinteraksi, dan berkembang secara berdampingan.
Berbagai gagasan yang mengemuka dalam I-CIRCALLED 2026 memperkuat pentingnya pengembangan pendidikan yang kritis, inklusif, dan berkelanjutan. Dalam lingkungan akademik, pemanfaatan AI perlu disertai kemampuan mahasiswa untuk mengevaluasi informasi, menguji hasil, serta membangun interpretasi secara mandiri. Pada saat yang sama, kreativitas manusia perlu diarahkan untuk merespons tantangan sosial yang muncul dalam kehidupan digital, termasuk kesepian dan berkurangnya interaksi sosial yang bermakna. Penguatan komunitas, sosialisasi secara langsung, dan gotong royong menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan sosial yang lebih sehat, setara, dan saling mendukung.
Melalui penyelenggaraan I-CIRCALLED 2026, FBS UNJ berharap pertukaran pengetahuan dan gagasan antarakademisi dari berbagai negara dan disiplin ilmu dapat berkembang menjadi kolaborasi penelitian serta program pengabdian kepada masyarakat. Konferensi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi bidang bahasa, seni, dan sastra dalam mendukung pendidikan berkualitas, memperluas inklusivitas, serta mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan berkelanjutan.