Pembekalan Calon Wisudawan Fakultas Bahasa dan Seni “Digital Marketing Sebagai Salah Satu Bisnis Kreatif di Era Milenial”

Pembekalan Calon Wisudawan Fakultas Bahasa dan Seni “Digital Marketing Sebagai Salah Satu Bisnis Kreatif di Era Milenial”

Melepas mahasiswa ke dunia luar dan menyaksikan keberhasilan mereka ke depannya nanti tentu menjadi langkah penting yang akan menyuguhkan rasa bangga bagi universitas. Karenanya, setiap fakultas memberikan pembelakan kepada calon wisudawan agar kelak dapat mendulang kesuksesan di dunia kerja dan masyarakat. Mengawali langkah ini, pada 6 Oktober 2021, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ) melaksanakan kegiatan Pembekalan bagi para calon wisudawan, yang dilaksanakan secara daring. Pembekalan mengangkat tema Digital Marketing Sebagai Salah Satu Bisnis Kreatif di Era Milenial”. Tema ini sangat menarik dan relevan dengan kebutuhan dan tantangan dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Kegiatan pembekalan digagas oleh Laboratorium Pusat Pengembangan Karir dan Kerja Sama FBS dan dihadiri oleh Wakil Dekan III FBS, Ibu Dr. Dinny Devi Triana, M.Pd., mewakili Dekanat FBS, para Koordinator Program Studi, dosen dan alumni, serta calon wisudawan sebagai peserta. Acara dikemas dalam bentuk talkshow dan mengundang 4 narasumber, yakni Danu Raga Aenudin, S.Pd., (alumni English Department FBS UNJ tahun 2011, seorang CEO dan Co-Founder Samara Berkah Internasional dan PT Sultanesia Baroka Internasional), Virgiawan Singgih Maulana (Pemilik Brand Virgis Little Garden, produsen sekaligus distributor berbagai tanaman hias), Christina Debora Marpaung, S.Pd. (Founder dan CEO Kiyora Learning,u les online/kursus bahasa Jepang yang dirintis sejak tahun 2020), dan Marethadiyana, S.Pd. (Pemilik Brand Diyanavia Indonesia, usaha rintisan di bidang industi kreatif yang sudah berjalan selama 7 tahun). Kegiatan dibagi menjadi 2 sesi ,masing-masing dimoderatori oleh Yose Pani dan Nabila, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Laboratorium Pusat Karir dan Kerja Sama FBS, Dr. Cut Erra Rismorlita, M.Si. yang melaporkan bahwa jumlah peserta kegiatan sebanyak 258 peserta dari 382 calon wisudawan. “Melalui kegiatn ini kami harapkan para wisudawan dapat bergabung dalam IKAFBS agar silaturahmi dan komunikasi antar alumni dapat tetap terjalin. Seminar hari ini bertema kewirausahaan dengan judul Digital Marketing Sebagai Salah satu Bisnis Kreatif di Era Milenial. Seminar bertujuan agar para lulusan memiliki mental yang kuat dan paradigma yang lebih komprehensif mengenai apa dan bagaimana menjadi seorang wirausahawan digital marketing”

Dr. Dinny Devi Triana, M.Pd. membuka acara dan menyampaikan sambutannya, “Kegiatan ini dapat menjadi titik tolak mahasiswa ke depan saat mendedikasikan pikiran dan waktu kepada bangsa dan negara. Kegiatan ini merupakan silaturahmi perpisahan kepada mahasiswa. Saat di dunia kerja, para mahasiswa wajib memiliki kepekaan terhadap pekerjaan yang sesuai serta selalu menjaga nama baik UNJ,” pesan Ibu Dinny. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Edura TV yang telah meliput sesi pembekalan ini sehingga dapat disaksikan oleh masyarakat UNJ lebih luas lagi.

Danu Raga Aenudin membuka materi pembekalan dengan paparan tentang cara awal memulai digital marketing yaitu peserta harus memiliki 3 hal: rasa suka tantangan dan hobi jualan, modal skill dan kreativitas, sifat tekun dan stabil.  Danu Raga memaparkan materi dengan membagi pengalamannya selama merintis usaha di bidang digital marketing. Pemaparan materi berlangsung salama 30 menit, dan dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi. Salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab, Herta Hayati, menanyakan cara mempertahanakan  konsistensi produksi dan perkembangan perdagangan bagi pemula. Herta menjelaskan bahwa ia memiliki usaha food and beverages, susu kurma, yang baru dirintis selama 3-4 bulan. “Sebaiknya usaha tidak dilakukan sendiri tetapi harus melibatkan minimal 2 orang yaitu tim produksi dan penjualan, agar job desk jelas dan tidak kewalahan. Penyeleksian supllier, perluasan jangkauan marketplace melalui reseller sangat mendukung konsistensi,” saran Danu.

Christina Debora Marpaung membagikan ceritanya bahwa Kiyora diinisiasi hanya sebagai sebuah brand market. Ia menjelaskan kelebihan-kelebihan Kiyora dan cara menyeleksi tutor yang berpengalaman dan mengembangkan Kiyora dengan metode active learning. Tak ketinggalan Christina juga memaparkan strategi digital marketing melalui media sosial, optimalisasi mesin pencari pada website, menciptakan branding yang kuat, menggalakkan refferral code, give away dan endorsement.

Virgiawan Singgih Maulana selanjutnya berbagi tentang bisnis yang berawal dari hobi. “Untuk membangun brand seperti ini memang sedikit berbeda dengan bisnis lain, yaitu melalui berbagai proses eksplorasi dan sharing ilmu dengan pemilik hobi yang sama, hingga mampu memproduksi tanaman sendiri dan memasarkannya. Pemanfaatan media sosial dan keaktifan mengikuti beberapa even pameran dapat dijadikan strategi untuk menaikkan brand,” tutur Virgiawan.

Marethadiyana kemudian berbagi tentang cara menciptakan brand. “Pertama, buatlah company profile seperti nama, logo, dan aspek-aspek pemasaran lainnya. Kedua, lakukan studi pasar, yakni analisis kebutuhan untuk melihat apa yang dibutuhkan masyarakat. Selanjutnya, buatlah sample karena orang seringkali membutuhkan contoh konkrit. Sample juga bagian dari tips and tricks. Jika belum memiliki modal untuk membuat sample, lakukan alternatif work up, maksimalkan media sosial, bangun kepercayaan kepada konsumen, dan bersikap konsisten,” jabar Marethadiyana.

Sesi tanya jawab mewarnai diskusi lanjut yang diantaranya berkaitan dengan topik packaging produk yang menarik namun terjangkau harganya, proses melegalkan eksistensi lembaga/les kursus, dan cara mengatasi penjualan produk makhluk hidup seperti tanaman dengan risiko layu atau mati.

Marethadiyana menjawab pertanyaan dengan memberikan kata kunci analisis kebutuhan untuk melihat tren pasar. Packaging dengan harga terjangkau bisa disiasati dengan menciptakan desain sendiri. Pertanyaan kedua direspon oleh Christina bahwa dalam melegalkan suatu lembaga, pemilik usaha wajib memiliki Nomor Induk Usaha. Pada akhir sesi tanya jawab, Virgiawan menjawab, “Dalam proses penjualan, kita harus lebih terbuka kepada konsumen dengan menjelaskan risiko produk, selain itu, penjual harus paham benar cara perawatan produk makhluk hidup seperti tanaman.

Melalui kegiatan pembekalan ini, dapat disimpulkan bahwa untuk membangun sebuah brand, tidak harus dengan modal yang besar tetapi dapat dimulai dari diri sendiri. Seperti yang dialami oleh para narasumber bahwa usaha bisnis dapat berawal dari hobi yang dikembangkan secara perlahan-lahan dengan modal terjangkau. Perkembangan teknologi sangat membantu meningkatkan branding produk diantaranya melalui media sosial. Tidak hanya branding, transaksi pun dapat pula dilakukan melalui media sosial ini sehingga peluang besar terbuka bagi siapapun untuk merintis sebuah bisnis. Oleh karenanya, agenda pembekalan wisuda didesain dengan maksud untuk memberikan wawasan dan pemahaman bagi para wisudawan tentang pentingnya digital marketing sebagai salah satu bisnis kreatif di era milenial. (hp/ren).