Penerjemahan Perkuat Kompetensi dan Kolaborasi Jepang–Indonesia

JAKARTA — Kemampuan menerjemahkan tidak sekadar berkaitan dengan penguasaan bahasa, tetapi juga menjadi kompetensi penting dalam menjembatani perbedaan budaya dan mendukung komunikasi profesional di tengah semakin eratnya hubungan Indonesia–Jepang. Perspektif tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam Seminar dan Workshop “Teori dan Praktik Penerjemahan sebagai Jembatan Budaya dalam Industri Jepang–Indonesia” yang digelar Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di Aula Bung Hatta, Kamis (1/10/2026).

Kegiatan menghadirkan Dudung Sahdu, General Manager HSE & CSR Division PT SUGITY CREATIVES, Pengelola LPK One Creatives Indonesia, sekaligus praktisi, penerjemah, pendidik, dan peneliti penghubung budaya Jepang–Indonesia. Melalui pemaparan dan praktik langsung, peserta memperoleh wawasan mengenai penerjemahan dalam konteks pendidikan, budaya, serta kebutuhan industri.

Dudung menekankan bahwa penerjemahan bukan sekadar memindahkan kata dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Penerjemah perlu memahami konteks, tujuan komunikasi, relasi antarpembicara, latar budaya, serta karakteristik audiens agar pesan yang disampaikan tetap sesuai dengan maksud aslinya.

Perspektif tersebut menjadi semakin penting dalam komunikasi Jepang–Indonesia. Perbedaan sistem bahasa dan budaya dapat memengaruhi cara suatu pesan dipahami, baik dalam lingkungan pendidikan maupun dunia kerja. Karena itu, kompetensi penerjemahan perlu dibangun melalui perpaduan antara kemampuan kebahasaan, pemahaman budaya, penalaran kontekstual, dan keterampilan komunikasi.

Menguji Peran AI dalam Penerjemahan

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut menjadi bagian penting dalam seminar. Peserta diperkenalkan pada berbagai fungsi AI yang dapat membantu proses penerjemahan, mulai dari menghasilkan alternatif terjemahan, memperbaiki tata bahasa, mempercepat pekerjaan, hingga memeriksa konsistensi teks.

Namun, pemanfaatan AI juga membutuhkan kemampuan evaluasi manusia. Teknologi dapat memberikan hasil yang secara kebahasaan tampak tepat, tetapi belum tentu sesuai dengan konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi sebuah pesan.

Salah satu contoh yang dibahas adalah ungkapan 「おつかれさまです」(otsukaresama desu). Ungkapan tersebut memiliki penggunaan yang beragam dalam komunikasi bahasa Jepang. Maknanya tidak selalu dapat diterjemahkan secara harfiah karena penggunaannya dipengaruhi oleh siapa yang berbicara, kepada siapa pesan disampaikan, situasi komunikasi, serta hubungan sosial antarpihak.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa teknologi dapat berfungsi sebagai alat bantu, sementara keputusan penerjemahan tetap membutuhkan kemampuan manusia dalam membaca konteks dan budaya.

Dari Teori ke Praktik

Pemahaman tersebut kemudian diterapkan dalam sesi workshop. Peserta menganalisis hasil penerjemahan berbasis AI dan membandingkannya dengan penerjemahan manusia melalui lagu Jepang “Mirai e” karya Kiroro.

Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, antara lain makna literal, konteks, pragmatik, budaya, serta pemahaman audiens. Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya berlatih menerjemahkan, tetapi juga belajar mengevaluasi kualitas hasil terjemahan dan mempertanggungjawabkan pilihan bahasa yang digunakan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa penerjemahan yang efektif tidak semata-mata ditentukan oleh kesepadanan kata. Kemampuan memahami pesan, fungsi komunikasi, latar budaya, dan kebutuhan audiens menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kompetensi penerjemah.

Menjembatani Kampus dan Dunia Kerja

Kegiatan juga menghubungkan kompetensi penerjemahan dengan kebutuhan dunia kerja, khususnya di lingkungan perusahaan Jepang. Dalam konteks industri, penerjemah dapat berperan sebagai penghubung komunikasi antara berbagai pihak, termasuk manajemen dan karyawan, sekaligus membantu mengurangi kesenjangan pemahaman yang muncul akibat perbedaan bahasa dan budaya.

Dengan demikian, lulusan Pendidikan Bahasa Jepang perlu memiliki kompetensi yang melampaui kemampuan berbahasa. Pemahaman budaya, komunikasi profesional, literasi digital, berpikir kritis, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi bekal yang semakin relevan untuk memasuki dunia kerja.

Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang, pembahasan tersebut memberikan gambaran mengenai beragam peluang penerapan kompetensi bahasa Jepang di luar ruang kelas. Pengalaman belajar yang mempertemukan teori, praktik, teknologi, dan kebutuhan industri juga membantu mahasiswa memahami keterkaitan antara kompetensi akademik dengan tuntutan profesional.

Selaras dengan SDGs 4, 8, dan 17

Pelaksanaan seminar dan workshop ini berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan pembelajaran yang kontekstual, berbasis praktik, dan responsif terhadap perkembangan teknologi. Integrasi antara teori penerjemahan, praktik analisis, literasi AI, dan pemahaman lintas budaya memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan peserta.

Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya melalui penguatan kompetensi yang mendukung kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Pemahaman mengenai penerjemahan dalam lingkungan industri memperluas perspektif mahasiswa terhadap kebutuhan kompetensi bahasa Jepang dalam komunikasi profesional dan hubungan kerja Indonesia–Jepang.

Sementara itu, keterlibatan praktisi industri dalam proses pembelajaran memperkuat semangat SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan praktisi menjadi ruang pertukaran pengetahuan yang dapat mempertemukan kebutuhan akademik dengan dinamika dunia profesional.

Melalui kegiatan tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang FBS UNJ terus mendorong pembelajaran yang tidak berhenti pada penguasaan bahasa, tetapi berkembang menjadi kompetensi lintas budaya, literasi teknologi, dan kesiapan profesional. Penerjemahan pada akhirnya hadir bukan hanya sebagai proses mengalihkan pesan dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan sebagai kemampuan untuk membangun pemahaman di tengah perbedaan bahasa, budaya, dan lingkungan kerja Jepang–Indonesia.