RTM Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Rapat dibuka oleh Kepala Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNJ

Agenda: Laporan AMI oleh Bu Hesti

Plus: 

  • Sudah ada mata kuliah mata kuliah wirausaha yang terintegrasi dg MK penyuntingan dan PBIPA
  • PPBSI sudah terintegrasi dengan Ikaprobsi
  • Dosen sudah menerapkan kurikulum OBE 
  • Telah melaksanakan tridarma sesuai dengan visi misi UNJ, FBS, dan prodi

Temuan:

  • Pelibatan Dudi masih belum muncul dalam laporan
  • Belum memiliki sertifikasi kompetensi untuk alumni
  • Dari beberapa responden, hanya satu yang jadi wirausaha
  • Dokumen setelah monev perkuliahan belum ada
  • Luaran penelitian dosen blm terdata dengan baik

Yang menjadi catatan:

  • Pembelajaran berbasis OBE dengan kriteria CBL dan PjBL minimal 50%
  • Harapannya RPS terus diperbarui untuk mengarah ke sana
  • Peta profil yang disoroti auditor sebagai guru pemula dan peneliti pemula (tidak masalah), yang menjadi catatan adalah profil yang menjadi wirausahawan yang baru ada satu. Jadi harus didorong mahasiswa untuk ini. 
  • Saat dosma kemarin, Pak Edi sudah menyampaikan untuk ini.
  • Wirausahawan ini tidak harus di bidang pendidikan, tapi yang penting punya NIB (Nomor Induk Berusaha)
  • Jadi kita dorong, alumni yang belum bekerja di tidak profil itu, untuk membuat NIB
  • Solusi untuk mendorong mahasiswa mengisi PPEPP kegiatan pembelajaran, diberikan hadir voucher misalnya.
  • Kesulitan yang dialami laporan: mahasiswa tidak mengisi, alumni yang baru2 tidak mengisi, kalau alumni yang lama-lama sudah mengisi. 
  • Biasanya fakultas ada momen pelepasan, jadi sebaiknya momen ini dilakukan  

Tanggapan:

  • Bu Sinto: DUDI yang dimaksud untuk prodi kita? Dunia kerja yang sesuai dengan profil lulusan, seperti: sekolah, penerbit, bimbel, media massa, BRIN, Badan Bahasa. Kalau sudah ada kerja sama dengan DUDI makin baik.
  • Bu Reni Nur: pengguna lulusan, kepuasannya dari gform dari prodi saja, fakultas saja, atau univ aja? Karena kita ada PKM, bisa titip tracer study gformnya ke kepala sekolahnya untuk diisi. Link gformnya dari prodi, diketuai oleh Bu Etsa
  • Pak Edi Puryanto: Sertifikat kompetensi menjadi tuntutan sendiri. 
  • Bu Hesti: di skema skrg belum mencakup semua prodi. Prodi kita belum ada skemanya, baru ada pelatihan tatap muka. Dari LSP meminta prodi untuk mengajukan skema karena kompetensi apa yang dibutuhkan lebih paham prodinya. Nanti LSP yang memfasilitasi. Per prodi harus ada dua asesor. Ada pelatihan untuk asesor dari universitasnya. Biaya untuk mengajukan 7-8 juta per orang. Kegiatan 3-5 hari full. Untuk mahasiswa, harganya 400 ribu. Semua sertifikat itu dari BNSP nanti yang mengeluarkan.
  • Kalau mandiri kan butuh dana
  • Setelah monev, edom, dan dosma, tindak lanjutnya di rapat prodi. Nah, implementasi dari rapat prodi ini apa? Dokumennya itu bikin dalam tabel aja (temuannya apa dan tindak lanjutnya apa- before dan after-nya gimana). Tindak lanjutnya adalah dokumentasi rapat prodi dengan mahasiswa. 

Agenda kedua:

Membahas Dosma

  • MK di PBM di antara micro, perencanaan, dan ppki ada sedikit perbedaan. Kurang koordinasi dan beda instruksi
  • Kuliah di MPPBI di awal semester, kuliah ini bertumpuk dan saling bersinggungan.
  • Misskomunikasi ini terjadi karena ada perbedaan jenjang waktu.
  • Prodi memfasilitasi untuk bimbingan akademik sebagai jadwal bimbingan PA.
  • Buku bimbingan PAnya dicetak kalau bisa.
  • Koordinator PA perlu dibuatkan PA.
  • Bagi prodi dan dosen hanya sebagai administrasi. Padahal mahasiswa mengharap PAnya menjadi tempat curhat. Harap dibuatkan sistemnya, ada reminder, ada agenda untuk bimbingan PA. 
  • Pak Fajar: dulu ada pelatihan dosen PA di Depok yang diadakan oleh fakultas. Kerja samanya dengan psikolog UNJ dan luar.
  • Bu Ayu: Mendekati mahasiswa secara personal. Jadi, sangat perlu pelatihan bimbingan PA.
Likes
Dislikes
Share