APRESIASI DRAMA PBSI ANGKATAN 2023

Universitas Negeri Jakarta, 22 Desember 2025, Program Studi Pendidikan Bahasa
Indonesia Angkatan 2023 menyuguhkan pertunjukan teater drama. Pertunjukan teater drama
ini merupakan penuntasan UAS pada mata kuliah Apresiasi Drama. Bertempat di Aula Latief,
Gedung Dewi Sartika Lt 2, Kampus A. Pertunjukan teater drama ini dimulai pada pukul 12.30
sampai dengan selesai. Pengunjung yang hadir juga merupakan teman-teman PBSI dari
berbagai angkatan.
Pertunjukan pertama datang dari Seminasia: Panggung Kata “Tuhan, Beri Aku Surga”.
Drama ini menceritakan bagaimana seorang anak (Lia) yang menjadi korban atas keegoisan
ayahnya, ayahnya yang temperamental, tidak mau bekerja, suka berjudi dan memiliki banyak
hutang. Lia harus menopang kehidupan keluarganya dengan pekerjaan yang seharusnya tidak
ia lakukan, Lia bekerja untuk melayani seorang bos yang bernama Wirya. Setiap adegan
membuat saya terenyuh dan kagum kepada para pemain yang sangat totalitas dalam
memainkan peran mereka. Peran yang menarik hadir pada karakter Julia, Julia yang centil,
cerewet, dan julid mampu membuat penonton tertawa sekaligus geram akan kejulidannya.

Musik-musik yang dihadirkan pada teater drama “Tuhan, Beri Aku Surga” merupakan musik-
musik yang familiar, sehingga penonton mampu merasakan emosi dan banyak yang menitikkan

air mata.
Berlanjut ke pertunjukan kedua yang ditampilkan oleh Teater Kami dengan judul
“Hujan di Kepala Ayunda”. Alur cerita ini dikemas dengan epik, sehingga penonton mampu
merasakan kepanikan dan keresahan yang Ayunda rasakan. Ayunda yang takut hujan, Ayunda
yang takut tidak sejalan dengan waktu, Ayunda yang harus bisa menerima cahaya dan gelap
dalam dirinya. Pada teater drama ini, diajarkan bahwa “penerimaan” adalah hal yang paling
penting untuk memulai sesuatu dalam diri kita. Teater ini diakhiri dengan Ayunda yang
menerima dirinya secara utuh dan sudah menemukan rumah yang beratapkan “penerimaan”.
Sebagai pertunjukan terakhir, Teater Nadir menampilkan drama mereka yang berjudul
“Angka-Angka Kematian”. Alur cerita ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pertengkaran 3 bersaudara mengenai warisan yang diberikan oleh orang tua mereka. Setiap

anak merasa bahwa warisan itu tidak adil. Sang anak kedua yang selalu merasa dibanding-
bandingkan oleh anak pertama. anak pertama yang merasa bahwa dirinya yang paling banyak

berkorban di dalam keluarga mereka. Harta memang membuat manusia menjadi gelap mata.
Drama ini mengajarkan bahwa keutuhan keluarga lebih penting daripada harta.
Ketiga pementasan teater drama ini mempunyai hal uniknya masing-masing. Mulai dari
tata musik yang semakin membuat penonton hanyut dan masuk dalam ketiga drama ini, tata
busana pada setiap tokoh yang semakin memperkuat karakter yang dimainkan, tata rias yang
membuat setiap wajah-wajah tokoh seolah-olah dibuat hanya untuk memainkan peran yang
mereka mainkan.

Likes
Dislikes
Share