






Jakarta, 14 Oktober 2026 — Seni tari tidak hanya berbicara melalui keindahan gerak, tetapi juga melalui tubuh sebagai medium ekspresi, penyimpan ingatan budaya, dan sarana membangun hubungan antarmanusia. Perspektif ini relevan dengan penyelenggaraan The 2nd International Conference on Culture, Arts, Languages, Literature, and Education (I-CIRCALLED) 2026 oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yang mengangkat tema “Human Creativity and Sustainable Futures: Transforming Arts, Literature, Language, and Education for an Inclusive and Equitable World.”
Konferensi yang berlangsung pada Rabu (14/10) di Auditorium Latief Hendraningrat lantai 2 UNJ dan melalui Zoom ini menghadirkan diskusi mengenai kreativitas manusia, perkembangan kecerdasan buatan (AI), keberagaman budaya, serta masa depan seni dan pendidikan. Bagi pendidikan Seni Tari, pembahasan tersebut membuka ruang refleksi tentang bagaimana gerak diciptakan, diwariskan, ditafsirkan, dan dikembangkan tanpa kehilangan keterikatannya dengan manusia serta lingkungan budayanya.
Salah satu gagasan yang relevan disampaikan oleh Prof. Madya Dr. Hishamudin Isam dari Malaysia. Beliau menekankan bahwa bahasa menjadi landasan kreativitas dan pembentukan makna, sedangkan budaya merupakan jiwa yang memberi kedalaman pada ekspresi manusia. Menurutnya, AI dapat membantu proses kreatif, tetapi manusia tetap berperan sebagai arsitek yang menentukan arah dan makna karya.
Dalam seni tari, pemikiran tersebut dapat dibaca melalui hubungan antara gerak dan konteks. Sebuah gerakan tidak selalu memiliki arti yang sama ketika dipindahkan dari satu ruang budaya ke ruang lainnya. Maknanya dapat dipengaruhi oleh tradisi, iringan musik, kostum, ruang pertunjukan, serta hubungan penari dengan penonton. Karena itu, pembelajaran tari tidak cukup hanya berfokus pada ketepatan teknik atau kemampuan menghafal rangkaian gerak. Mahasiswa juga perlu memahami alasan suatu gerak hadir, nilai yang dibawanya, dan konteks sosial yang membentuknya.
Aspek inklusivitas menjadi perhatian lain yang dapat dipetik dari pemaparan Dr. Jeong Ok Jeon dari Korea Selatan mengenai Festival Walk di Ars Electronica, Linz. Beliau menjelaskan bahwa makna seni muncul melalui hubungan karya dengan manusia dan konteksnya serta mengingatkan bahwa partisipasi tidak selalu berarti demokratis dan bahwa hubungan yang inklusif tidak mengharuskan semua pihak mencapai kesepakatan atau menghapus perbedaan.
Dalam pendidikan Seni Tari, gagasan ini mengajak pendidik dan mahasiswa untuk memandang ruang latihan serta pertunjukan sebagai tempat bertemunya beragam pengalaman tubuh, latar budaya, dan cara berekspresi. Proses penciptaan karya dapat dirancang dengan memberi ruang bagi dialog, kolaborasi, dan perbedaan interpretasi. Penilaian pun tidak semata-mata bertumpu pada keseragaman bentuk atau kemampuan meniru satu standar gerak, tetapi juga mempertimbangkan proses, pemahaman, kreativitas, dan perkembangan artistik
Melalui The 2nd I-CIRCALLED 2026, pendidikan Seni Tari memperoleh ruang refleksi untuk terus mempertemukan keterampilan gerak, pengetahuan budaya, kreativitas, dan tanggung jawab sosial. Mari terus merawat tari sebagai praktik seni yang hidup—berakar pada pengalaman dan tradisi, terbuka terhadap eksplorasi baru, serta mampu menghadirkan ruang perjumpaan bagi beragam tubuh dan gagasan.