Seminar Pendidikan dalam Rangka Bulan Bahasa UNJ 2017

Pada Senin, 30 Oktober 2017 telah dilaksanakan kegiatan peringatan Bulan Bahasa 2017 oleh Program Sudi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI) FBS UNJ. Kegiatan Bulan Bahasa UNJ ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor 4 UNJ, yaitu Bapak Dr. Achmad Ridwan di Aula Maftuhah Yusuf, Gedung Dewi Sartika lantai 2 UNJ. Sebelumnya, Dekan FBS (Ibu Dr. Liliana Muliastuti) menyampaikan sambutan dan apresiasia beliau kepada Prodi PBSI dan BEMP PBSI yang telah menyelenggarakan kegiatan akbar ini. Sambutan Dekan FBS didahului oleh Laporan Koordinator Prodi PBSI, Ibu N. Lia Marliana, M.Phil.(Ling) di hadapan sekitar 200 peserta.

Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan seminar dan lokakarya di ruangan yang sama. Kemudian, dilaksanakan pula kegiatan G-Sastrasia (final lomba baca puisi dan baca berita oleh siswa SMP dan SMA tingkat nasional) di Aula Latief. Pada acara seminar dan lokakarya, kegiatan pertama yaitu Seminar Sekolah Internasional yang disajikan oleh Ibu Dr. Capri Anjaya S.Pd. M.Hum. yang merangkap sebagai moderator. Beliau adalah seorang pendidik sekaligus Ketua Yayasan PSSDM. Beliau juga seorang Trainer dan penulis buku yang berjudul “Sekolah Lokal Berkualitas Internasional”. Dalam seminar tersebut, dijelaskan bagaimana cara mengelola sekolah internasional dan bagaimana mempersiapkan guru SPK (Satuan Pendidik Kerja Sama). Beliau menginginkan mahasiswa UNJ menjadi bagian dari guru SPK yang bisa bekerja sama dengan sekolah-sekolah internasional. Pada hakikatnya guru adalah seorang pendidik, yang harus memenuhi ketentuan profesi guru agar menjadi guru yang baik. Bu Capri menjelaskan, bahwa perbedaan sekolah internasional dengan sekolah nasional terletak pada kurikulum, kegiatan belajar-mengajar, proses penilaian, dan kompetensi kelulusan. Sebenarnya kurikulum Indonesia dengan Cambrige Curriculum itu sama, yang membedakan hanyalah metode pembelajarannya saja. Lalu, pada proses kegiatan belajar mengajar, lebih ditekankan pada hal yang praktis (bagi menghitung rumus). Proses penilaian sekolah internasional itu dari hasil class work, portofolio, oral test, homework, presentasi dan attitude. Bu Capri juga memaparkan kunci sukses yang dikutip dari Eng Chin (ACS Executive Principal) yaitu: Mengangkat dan menempatkan staf dengan tepat, serta membangun kapasitas/kemampuan staf. Kemudian Bu Capri juga memaparkan kunci memajukan sekolah yang dikutip dari Gerald Donovan (former Head of Bogor Raya School, Head at Medan Independent School) yaitu: Merekrut pendidik yang termotivasi, energik dan berdedikasi. Beliau menjelaskan bahwa jika sudah lulus dari UNJ dan menjadi seorang guru, maka harus menjadi guru sebagai pengajar, penguji, pembimbing, entertainer, enterpreneur, dan guru adalah pelajar sepanjang masa.

Setelah memaparkan materinya, Bu Capri memanggil rekan-rekannya untuk naik ke atas panggung agar penonton mengetahui contoh nyata dari para guru SPK dan siswa sekolah SPK. Mereka adalah Bu Puspa (Head of SPK SIS Group of Schools, Koordinator Pengimpasan Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia), Bu Ruth (Pengurus Professional Development Perkumpulan Sekolah SK Indonesia), Bu Farida (Pengurus Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia – Hubungan Masyarakat), dan Rafito (siswa sekolah SPK). Diawali dengan pemaparan dari Bu Puspa, beliau adalah lulusan dari Universitas Pendidikan Ganesa Bali jurusan Bahasa Inggris. Usia beliau yang masih muda tidak mnggentarkan beliau untuk terus ikut serta dalam memajukan sekolah SPK. Beliau pernah menjadi Wakil Kepala Sekolah PAUD, SD, SMP, SMA Canggu Community School Bali. Sekarang beliau diberi amanah sebagai Koordinator Pengimpasan Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia.

Selanjutnya Bu Ruth, beliau adalah lulusan Bachelor of Education dari AE University, Singapore. Beliau menjadi Guru IGCSE and A Level Mathematics Saint Peter School sekaligus pengurus Professional Development Perkumpulan Sekolah SK Indonesia. Bu Ruth lebih menjelaskan tentang kurikulum yang ada di sekolah-sekolah nasional dengan sekolah internasional. Sebenarnya sama saja, hanya yang membedakan adalah cara berpikir kritis tentang suatu materi yang akan diajarkan. “Misalnya, kurikulum Indonesia mengajarkan tentang segitiga, di Cambrige Curriculum atau AS Curicculum juga ada segitiga, namun yang membedakan bagaimana cara menghitung luas segitiga dengan cara praktis. Kalau dengan cara Indonesia bisa meghabiskan 1 halaman untuk menghitung rumus, kurikulum luar hanya mengabiskan 3-4 baris untuk menghitung rumus” katanya.

​Setelah Bu Ruth, ada Bu Farida. Beliau lulusan dari Universitas Muhammadiyah Malang Jurusan Psikologi. Sekarang beliau diamanahkan sebagai Kepala Sekolah SDS, SMP Emerald Jakarta (Reguler dan inklusi) dan pengurus Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia Hubungan Masyarakat. Bu Farida lebih menjelaskan tentang ABK yang bersekolah di sekolah internasional. Seharusnya ABK lebih dihargai dan diperhatikan oleh guru agar motivasi dalam belajarnya meningkat. Walaupun terlihat sulit, namun bagaimana kita seorang guru harus mengajarkan dengan hati. Bu Farida juga menjelaskan banyak ABK yang bisa sukses atas didikan guru yang mengajarkan dengan setulus hati.

​Sesi terakhir ditutup dengan wawancara antara Bu Capri dengan Rafito. Rafito dalah siswa SPK yang baru lulus dan diterima sebagai mahasiswa Southern Institute of Technology (SIT) – New Zealand Februari 2018. Di-usianya yang masih muda, Rafito sudah meluncurkan sebuah buku yang berjudul “The Secret of Learning”. Buku itu memuat bagaimana kunci dalam belajar dan kisah pembelajaran Rafito sebagai siswa SPK. Setelah semuanya bercerita tentang sedikit pengalamannya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Bu Capri dan rekan-rekannya juga membagikan buku gratis dari penaja sekolah SPK bagi peserta yang bisa bertanya dan menjawab pertanyaan Bu Capri.

Terakhir, pembagian cendera mata yang diberikan oleh Wakil Rektor I UNJ Bapak Prof. Dr. Mukhlis R. Luddin, M.A. didampingi Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Ibu N.Lia Marliana S.Pd. M.Phil. kepada Ibu Dr. Capri Anjaya, S.Pd. M.Hum beserta rekan-rekannya. Dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai bentuk kenang-kenangan dan pengabadian gambar dari acara tersebut. (alfia)