SEMINAR DARING BULAN BAHASA: PENGAJARAN BAHASA DAN SENI BUDAYA INDONESIA DI LIMA BENUA (HARI Ke 2)

SEMINAR DARING BULAN BAHASA: PENGAJARAN BAHASA DAN SENI  BUDAYA INDONESIA DI LIMA BENUA (HARI Ke 2)

SEMINAR DARING BULAN BAHASA: PENGAJARAN BAHASA DAN SENI BUDAYA INDONESIA DI LIMA BENUA (HARI Ke 2)

      Pelaksanaan Seminar Daring pada hari kedua, Sabtu, 31 Oktober 2020 dimulai pkl 09.00 WIB, FBS UNJ kembali melaksanakan Seminar Daring Bulan Bahasa: Pengajaran Bahasa dan Seni Budaya Indonesia di Lima Benua. Acara dibuka dengan pemutaran video singkat (persembahan) tari tradisional dan dibuka kembali oleh pewara, Ibu Ati Sumiati, M.Hum dan pembacaan CV ketiga pembicara hari ini oleh moderator Ibu Aprina Murwanti, Ph.D.

      Pada sesi pleno pertama dibuka oleh pembicara pertama di hari kedua seminar oleh Ibu Dr. Erlin Susanti Barnard, TESOL,.Ph.D, seorang dosen dari University of Wisconsin, Language Director of Southeast Asian’s Study, seorang pengajar BIPA di Amerika Serikat dengan berbagai publikasi ilmiah bertaraf internasional . Tema yang diangkat oleh beliau adalah “Pengajaran Bahasa dan Seni Budaya Indonesia di Amerika Serikat”. Menurut pandangan dan pengalaman beliau pengajaran BIPA di Amerika sudah melalui beberapa institusi/ lembaga resmi seperti COTI dengan 12 Universitas pendukung sejak tahun 1975, FSI, DLI, DCL CP, program yang diadakan oleh KBRI dan KJRI di Amerika Serikat dan pengadaan program bahasa kelas musim panas (Summer Camp) seperti Program IFLI, SILS, Synchronous dan Hybrid. Menurut pandangan ibu Erlin, saat ini program pembelajaran BIPA hendaknya lebih terfokus kepada pembekalan 3 moda komunikasi seperti komunikasi interpersonal, komunikasi interpretive dan komunikasi presentation (oral).

      Pembicara kedua adalah Bapak Prof. Suyoto., MP.d, seorang dosen tetap di Kanda University Studies, pengajar BIPA di Wisconsin pada tahun 1994, pengajar BIPA di Jepang Direktur Modern Indonesia Language and Culture Course di KLC Universitas Brawijaya, Koordinator Program for Overseas Student pada tahun 1993-1997, Direktur Indonesian’s Studies Program dan berbagai jenis prestasi lainnya telah diraih beliau. Menurut pemaparan sejarahnya, perjuangan realisasi program BIPA di Jepang dimulai pada tahun 1908 dengan nama Program pengajaran bahasa Melayu di Tokyo hingga promosi pengenalan mengenai bahasa dan budaya Indonesia di beberapa Sekolah Menengah Atas di Jepang. Upaya-upaya yang dilakukan dalam memperkenalkan budaya Indonesia adalah melalui pengembangan/ perekayasaan: Fasilitas lingkungan belajar seperti gamelan Bali dan Set up panggung rumah Indonesia (di MULLC). Pembangunan kantin halal, mushalla dan budaya Indonesia dan bergabung dalam kegiatan-kegiatan Festival Budaya, pagelaran drama Indonesia di Jepang. Hal ini bertujuan untuk menarik minat siswa/i Jepang terhadap bahasa dan seni budaya Indonesia. Ada beberapa Asosiasi seperti HPIJS, PPI dan Asosiasi Pencak Silat sebagai wadah berkumpul orang-orang Indonesia atau Jepang yang tertarik terhadap bahasa, seni dan budaya Indonesia. Kerjasama juga telah dilaksanakan sejak lama dengan beberapa universitas di Indonesia sebagai salah satu unit program pembelajaran BIPA bagi pemelajar di Jepang untuk mendalami bahasa, seni dan budaya di Indnonesia. Berbagai pendukung saat ini seperti media sosial, acara televisi yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu objek dan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.