SEMINAR DARING BULAN BAHASA: PENGAJARAN BAHASA DAN SENI BUDAYA INDONESIA DI LIMA BENUA

SEMINAR DARING BULAN BAHASA: PENGAJARAN BAHASA DAN SENI  BUDAYA INDONESIA DI LIMA BENUA

SEMINAR DARING BULAN BAHASA: PENGAJARAN BAHASA DAN SENI BUDAYA INDONESIA DI LIMA BENUA

      Dalam rangka merayakan Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2020, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta mengadakan seminar daring selama dua hari pada hari jum’at dan sabtu, tanggal 30-31 Oktober 2020 dengan tema “Pengajaran Bahasa dan Seni Budaya Indonesia di Lima Benua”. Pelaksanaan kegiatan diadakan untuk  menyambut Bulan Bahasa tahun ini secara meriah, dengan mengundang berbagai narasumber sebagai pemateri. FBS UNJ mengundang tujuh orang pengajar BIPA dan tiga orang alumni dan pemelajar BIPA. Para pemateri ini merupakan para pengajar Bahasa dan Seni Budaya Indonesia yang ditempatkan di lima benua dan juga para alumni atau pembelajar asing bahasa Indonesia (BIPA) yang telah kembali ke negara asalnya maupun sedang berada di Indonesia saat ini.

       Kegiatan ini dimulai pada hari Jum’at, 30 Oktober 2020  pukul. 09.00 WIB yang dibuka oleh Ibu Ati Sumiati sebagai pewara dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Ibu Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Dr. Liliana Muliastuti, dilanjutkan kata sambutan dari Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Bapak Dr. Komarudin, M.Si, dan penandatanganan surat perjanjian kerja sama program kampus merdeka antara FBS dan Seameo Qitep in Language, penayangan mars UNJ, foto bersama. Setelah penyampaian kata sambutan, acara selanjutnya adalah pembacaan biodata para pemateri oleh moderator yaitu Ibu N. Lia Marliana., S.Pd., M. Phil. (Ling).

      Pada sesi pleno pertama, dibuka oleh pemateri pertama yaitu Ibu Dr. Luh Anik Mayani. Beliau merupakan pengajar bahasa Indonesia penutur asing yang berdomisili di Thailand. Beliau merupakan Direktur SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL), seorang reviewer hibah ILP London, reviewer jurnal nasional dan juga berprofesi sebagai peneliti bahasa. Tema yang diangkat oleh beliau adalah “Peta dan Peluang Pengajaran BIPA di ASIA TENGGARA”.  Internasionalisasi bahasa Indonesia dewasa ini diselenggarakan melalui berbagai program. Hal ini dilatarbelakangi oleh peresmian bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi ASEAN. Program pembekalan bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) dilaksanakan dengan berbagai jalur di ASEAN, termasuk jalur formal, informal dan melalui jalur pemerintah atau kelembagaan. Potensi pengajaran bahasa Indonesia kini semakin besar di berbagai bidang khususnya dibidang pendidikan dan penelitian, hal ini semakin mendorong majunya proses internasionalisasi bahasa Indonesia bagi penutur asing. Pada akhir papara, Bu Luh Anik juga menyampaikan simpulan bahwa

       Pembicara kedua pada sesi pleno pertama oleh Bapak Drs. H. Ahmad Tavip Syah M.Si sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Dili Timor Leste, kepala satuan ATDIKBUD Dili, Timor Leste. Melalui paparannya, Pak Taufik menjelaskan bagaimana peluang, tantangan dan solusi pemelajaran Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA). Bahasa Indonesia merupakan bahasa penutur terbanyak ketiga setelah bahasa Inggris dan bahasa Portugis.Kesamaan kultur menjadikan bahasa Indonesia banyak diminati di Timor Leste selain itu bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang digunakan pada lembaga-lembaga pemerintahan di Timor Leste. Hal-hal ini merupakan peluang besar bagi bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi dalam berbagai kegiatan di Timor Leste dan memperluas kesempatan Program BIPA untuk masuk ke Timor Leste dengan menjamin keamanan dan kenyamanan akomodasi para pengajar BIPA yang ditempatkan di beberapa distrik di Timor Leste. Sehingga bahasa Indonesia tidak hanya digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari saja namun juga bahasa di berbagai kegiatan kenegaraan dan juga bahasa tulis. Sesi pleno pertama ditutup dengan sesi tanya-jawab dan penyampaian kesimpulan oleh moderator.

       Setelah selesai istirahat dan makan siang, pembukaan sesi Pleno kedua dibuka oleh pewara dan pembacaan Curriculum Vitae (CV) dua orang pembicara oleh moderator. Pembicara pertama yaitu Ibu Andi Nurhaina yang merupakan Dosen bahasa dan budaya Indonesia di Konstanz University of Applied Sciences, Ketua APP BIPA Jerman, seorang penerjemah, Organisator Kebudayaan di Jerman juga mendalami komunikasi lintas budaya sebagai upaya perdamaian dunia. Pemaparan beliau bertema “Peluang Pengajaran Bahasa dan Budaya di Jerman”. Pada pemaparannya, Bu Andi menjelaskan bahwa ketertarikan masyarakat Jerman terhadap Batik, kebudayaan Indonesia, pariwisata Indonesia, kesempatan berkarir di Indonesia serta mempelajari problematika sosial Indonesia adalah daya tarik bagi masyarakat Jerman untuk belajar bahasa Indonesia. Beberapa jenis program pemelajaran bahasa Indonesia di Jerman salah satunya adalah memasukkan bahasa Indonesia sebagai salah satu mata kuliah (Kurikulum) bahkan mendirikan Program Studi Bahasa Indoesia di beberapa Perguruan Tinggi di Jerman. Kesempatan ini merupakan peluang Internasionalisasi bahasa Indonesia dan semakin membuka peluang bagi para pengajar bahasa Indonesia untuk berkarir di Jerman. Tantangan yang harus dihadapi bagi para pengajar tentu saja harus mampu beradaptasi dengan kultur sosial masyarakat sekitar dan juga diharapkan bagi para pengajar memiliki pengetahuan di bidang budaya, susahnya memperoleh izin tinggal dan kontrak kerja karena lebih mengutamakan kesempatan bagi penduduk lokal.

            Pembicara kedua menghadirkan Bapak Henry Wijaya, seorang dosen tamu pengajar bahasa Indonesia di Guangdong University of Foreign Studies sebagai wadah program bahasa Indonesia tertua ketiga di Tiongkok. Program pembelajaran bahasa Indonesia di Tiongkok dalam penyampaian materi-materi disajikan dengan lebih terperinci seperti pembelajaran ‘Ketepatan Pelafalan Bunyi dan Pembejalaran Alfabet’. Bahan ajar dan kurikulum disusun sendiri oleh dosen tetap prodi sesuai dengan tingkat kebutuhan mahasiswa pemelajar BIPA. Pembelajaran bahasa Indonesia di Tiongkok akan di imbangi dengan pembelajaran budaya seperti tari, angklung dan drama Indonesia yang sering ditampilkan dalam beberapa lomba dan festival di Tiongkok. Kesulitan yang dihadapi oleh para pemelajar maupun alumni adalah ketika melakukan penerapan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi sehari-hari dengan bahasa yang telah dipelajari di Universitas. Ini merupakan tantangan bagi para pembicara bahasa Indonesia penutur asing di Tiongkok untuk memperluas wawasan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi interpersonal.

      Setelah menyampaikan paparan oleh beberapa narasumber, dibuka sesi tanya-jawab dan penyampaian simpulan sebagai penutup seminar daring hari pertama.